Bau dendam mulai meruak beriringan dengan uap kebencian yang terus
tiada henti mendengus layaknya udara yang terus berdampingan dengan
nasalnya. Aku mulai paham bahwa garis antara perasaan itu sangatlah
tipis seperti membran membungkus benihnya. Kamu tahu apa itu ? Tentu
saja tidak, karena kamu hanya tahu cinta itu adalah kamu. Kamu, kamu
yang mencabut rasa itu dari ciptanya.
Mencabutnya hingga ke persemaian, membuat akar yang tertanam tak dapat
tumbuh dan berkembang. Kamu, kamu yang memutuskan daur semai kuncup
bunga, dan kamu adalah api yang membakar sisa humusnya agar tak ada lagi
puspita kenangan dapat bersemi di tempatnya kembali.
Hanyalah buku #1
*Ulfha - Sastra Indonesia FSSR UNS 2014
0 komentar:
Posting Komentar