Terlihat jelas kilat netra dari ambisi tuk memiliki kembali. Kintaka
duka yang terlanjur mengendap membuat hati sulit tuk menerima maaf.
Degup jantung yang dulu bak serdadu ketika mendengar desah suaramu, kini
berubah menjadi gelegar petir yang menyambar merusak gendang telinga.
Aku takut untuk menunjukan sisi lain dari apa yang selama ini orang
katakan biadab. Mencintaimu kembali merupakan suatu nestapa yang tiada
henti menggorogoti ketenanganku.
Hanyalah buku #2
Oleh : Ulfa (Sastra Indonesia 2014) FSSR UNS
0 komentar:
Posting Komentar