Alhamdulillah, malam ini saya menyelesaikan bacaan yang telah saya
mulai sejak pagi. Membaca buku ini saya awali dari ketidaktahuan saya
mengenai "muhasabah". Pada satu waktu konsultasi dengan dosen pembimbing
skripsi (Pak Asep), beliau berkali-kali menyebut perihal "muhasabah".
Jujur saja waktu itu saya tidak paham mengenai prihal tersebut. Konteks
muhasabah dengan berbagai hal yang terjadi akhir-akhir ini (bencana
alam, fenomena sosial, dsb.) yang tidak saya pahami menjadikan saya ingin tau.
Ketidaktahuan membawa saya membeli buku "Muhasabah Penggugah Jiwa"
karya Adzi JW yang tidak sengaja saya temui di tumpukan buku-buku BOOM
SALE Gramedia Surakarta (sampai 30 Oktober). Sekitar dua Minggu lalu,
buku itu saya beli dan bawa pulang.
Hari ini sangat membahagiakan, saat saya sedikit memahami perihal "muhasabah". Muhasabah menurut Adzi berasal dari kata "hasibah" yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaannya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri, mengevaluasi diri, atau mengintrospeksi diri. Melalui muhasabah, orang diharapkan mampu berubah menjadi lebih baik.
Hal paling menarik dalam bahasan ini, bahwa menilai diri sendiri rasanya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Berbeda dengan saat menilai orang lain, bisa dengan mudah menyebutkan beberapa kesalahan orang lain secara cepat dan lengkap. Bahkan, kita membutuhkan cermin hanya untuk mengamati wajah kita sendiri.
Bagaimana bisa untuk mengevaluasi diri sendiri sampai memerlukan alat sementara kecepatan dan kelengkapan ditunjukkan untuk mengevaluasi orang lain? Hal tersebut tentu saja memiliki relevansi dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
Renungan untuk diri sendiri. Mari bersama-sama muhasabah diri.
Surakarta, 18 Oktober 2018
Hari ini sangat membahagiakan, saat saya sedikit memahami perihal "muhasabah". Muhasabah menurut Adzi berasal dari kata "hasibah" yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam penggunaannya, muhasabah diidentikkan dengan menilai diri sendiri, mengevaluasi diri, atau mengintrospeksi diri. Melalui muhasabah, orang diharapkan mampu berubah menjadi lebih baik.
Hal paling menarik dalam bahasan ini, bahwa menilai diri sendiri rasanya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Berbeda dengan saat menilai orang lain, bisa dengan mudah menyebutkan beberapa kesalahan orang lain secara cepat dan lengkap. Bahkan, kita membutuhkan cermin hanya untuk mengamati wajah kita sendiri.
Bagaimana bisa untuk mengevaluasi diri sendiri sampai memerlukan alat sementara kecepatan dan kelengkapan ditunjukkan untuk mengevaluasi orang lain? Hal tersebut tentu saja memiliki relevansi dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
Renungan untuk diri sendiri. Mari bersama-sama muhasabah diri.
Surakarta, 18 Oktober 2018

0 komentar:
Posting Komentar